Search

Acatraveler's Diary

which of the favours of your Lord will you deny

Kepo Soal KKN Kebangsaan #3

Hari pemberangkatan tiba. Upacara pelepasan mahasiswa KKN Kebangsaan telah selesai dilaksanakan. Kami bersiap untuk diberangkatkan menjadi beberapa gelombang. Peserta dibagi menjadi 4 gelombang keberangkatan; grup Lingga, grup Karimun, grup Batam, dan grup Bintan. Di empat kepulauan itulah kami akan ditempatkan.

Kami adalah gelombang kedua. Tiket PP menuju dan dari tempat KKN sudah ditanggung oleh universitas penyelenggara. Tetapi kalau ingin wisata sendiri di tengah-tengah waktu KKN, tentu saja menggunakan biaya sendiri.

Sekali lagi aku masih merasa takjub karena aku harus menempuh jalur udara, darat, dan laut untuk mencapai tempat KKN. Dari pulau Bintan ke Kabupaten Karimun di kepulauan Karimun saja butuh waktu 3 jam perjalanan laut. Lalu, kami perlu meneruskan perjalanan ke Desa Lebuh selama satu jam dengan kapal ferry yang sudah disiapkan. Kami kira, kami akan turun di desa tersebut, tapi ternyata kami turun dari ferry di dermaga desa tetangga dan harus naik mobil pick up ber-14 berikut dengan seluruh barang bawaan kami selama sekitar 15 menit. Setelah agak lama tinggal di sana, kami baru tahu jika akses ke Desa lebuh hanya 3 kali sehari di jam-jam tertentu saja dan dengan kapal-kapal tertentu pula.

Nah setelah diterima oleh para pemangku desa, kami terharu karena sudah disiapkan tempat tinggal yang layak dan diberi perkakas rumah tangga layaknya pengantin baru. Kami tinggal di sebuah bekas puskesmas desa yang meskipun kata masyarakat setempat seram, tapi nyaman ditinggali. Well, kami berusaha sebisa mungkin menjaga tempat itu agar terjaga kebersihannya dan kerapihannya. Di desa lain, ada kelompok yang bahkan belum dapat tempat tinggal atau malah kena ribut dengan masyarakatnya. Kami bersyukur desa yang akan kami tempati menyambut kami dengan hangat, layaknya saudara jauh yang baru pulang setelah sekian lama.

Sekali lagi, karena desa ini ada di pulau terpencil yang hanya berjarak 45 menit dari Malaysia, soal transportasi, listrik, sinyal, dan teknologi masih sangat sulit. Listrik, bisa dibilang hany 9 jam per dua hari sekali. Itupun kalau obor di pembangkit listrik sedang mati, bisa tiga hari sekali. Sinyal, asalkan bisa internetan dengan jaringan Edge saja sudah beruntung. Sementara teknologi tercanggih adalah komputer di kantor desa, genset, dan beberapa televisi ber-parabola di rumah-rumah warga. Kulkas, mesin cuci, dan pompa air masih jadi barang mewah. Di desa lain, ada beberapa kelompok yang mendapat fasilitas lengkap layaknya hotel, karena memang mereka ditempatkan di daerah wisata. Tapi kami bersyukur karena bisa menikmati sensasi KKN yang sesungguhnya.

Inilah Indonesia yang masih membutuhkan perhatian dan sentuhan tangan-tangan mereka yang katanya akademisi canggih lulusan kampus ternama. Inilah lahan yang seharusnya digarap para pemuda Indonesia dan tak boleh sampai jatuh ke tangan bangsa asing hanya karena pemuda Indonesia kurang kepedulian terhadap nasib mereka. Biarlah pemerintah sibuk dengan kebijakan mereka, tapi harus ada orang yang juga memperhatikan kehidupan mereka yang ada di pelosok negeri.

Setelah berkenalan dengan warga dan mengamati daerah sekitar, kami mulai merapikan agenda program kerja dengan briefing setiap malam dan menyusun jadwal piket. Karena tema wajib proker kami adalah ekowisata bahari, kami mulai merancang jadwal jalan-jalan sekaligus proyek dokumentasi kelompok. Proker lain yang tak kalah penting adalah pengajaran di sekolah, perayaan 17 Agustus, dan sosialisasi nilai-nilai kebangsaan. Proker ini harus dimanajemen begitu rupa karena akan menjadi konten website sebagai salah satu bentuk laporan kami.

Jangan tanya soal tantangan hidup bersama 13 orang dengan 13 budaya berbeda. Kami seringkali terlibat konflik, tapi layaknya keluarga; akan kami selesaikan secara dewasa. Ada perubahan dalam hidup yang mulai terasa dari masing-masing pribadi kami. Rupanya hukuman push up 20 menit berdampak nyata menjaga kami tetap bersatu di tengah-tengah konflik yang mendera. Selain itu, kami juga saling berbagi resep, tradisi, dan cerita dari rumah masing-masing. Rasanya menyenangkan ketika kamu tahu kamu tidak menanggung beban hidup sendirian di negara ini. Ternyata ada mereka di luar sana yang juga ikut merasakan penderitaan itu tetapi tetap semangat menjalani hidup.

Menjelang akhir kegiatan, kelompok kami mendapatkan kunjungan dari dosen pembimbing kami dan dosen Univ. Negeri Lampung (dosennya Saroh). Selain itu, tentu saja kami menyempatkan liburan sejenak sebelum masa penarikan. Kami jalan-jalan dua kali; sekali bersama pak Kades dan pak Sekdes, sekali bersama kelompok kami sendiri. Fixed, I really miss those moments.

Setelah tepat 30 hari, kami ditarik kembali dari daerah penempatan. Ada beberapa siswa yang sengaja berpamitan sebelum mereka berangkat sekolah, ada beberapa yang meliburkan diri, dan tentunya para warga yang menjadi keluarga kami selagi kami jauh dari rumah masing-masing. Situasinya sangat emosional dan tentunya kami akan sangat rindu dengan kehidupan di sana. Sesampainya kami di Tanjung Pinang, kami mempersiapkan presentasi laporan kegiatan serta penutupan. Tidak banyak yang dilakukan selain menjalani waktu lambat-lambat, karena kemungkinan kami akan berjumpa sedikit saja dan dalam waktu yang lama. Ini pula yang jadi perbedaan besar dengan KKN reguler. Di mana mereka akan berjumpa kelompoknya dengan mudah; sementara kami harus punya waktu khusus untuk sekadar bersua.

Tapi bukankah dengan jarak kita akan saling menjaga kenangan? Dan bukankah dengan rindu kita akan menjaga hubungan?

KKN Kebangsaan, bagaimanapun bentuknya, adalah menemukan Indonesia. Seutuh-utuhnya. Pastikan namamu ada dalam daftar peserta KKN Kebangsaan tahun berikutnya!

Kepo Soal KKN Kebangsaan #2

Setelah terpilih melalui seleksi universitas, apa yang harus dilakukan? Apa yang perlu disiapkan? Bagaimana skema kegiatan KKNK? Di mana kita akan ditempatkan? Bagaimana kita akan mengenal kawan-kawan sekelompok? 

Kita wajib berkoordinasi dengan teman satu universitas dan pihak LP3M atau LP4M di universitas masing-masing. Mereka akan memberitahu prosedur standar meliputi pendanaan hingga pembuatan laporan KKN. Dalam hal ini, Unair memberikan fasilitas pendampingan dari staf untuk perwakilan mahasiswa, tiket pesawat pulang-pergi, dan sejumlah uang saku. Sementara ketika pelaksanaan KKN, universitas penyelenggara dan DIKTI (serta mungkin sponsor) akan membiayai seluruh dana pelatihan, dana program kerja, hingga akomodasi peserta. Kami juga mencari sponsor dan mempersiapkan uang pribadi untuk persiapan dalam kondisi darurat. Berdoa sajalah semoga semua aman terkendali.

Pihak LP4M juga akan mendaftarkan kita ke website resmi KKNK. Di sinilah nanti para mahasiswa universitas penyelenggara akan menghubungi teman-teman sekelompoknya melalui nomor yang tertera di website.

Ajaibnya, seluruh peserta KKNK 2016 sudah terhubung via grup Line beranggotakan 400 lebih mahasiswa. Kami pun saling berbagi informasi, berkenalan, dan beruluk dalam di grup tersebut. Berharap-harap cemas dan menebak-nebak keseruan yang akan terjadi saat saling bertatap muka.

Kelompokku di’satu’kan oleh Saroh, mahasiswa Universitas Negeri Lampung yang sudah lebih dulu di-invite lewat Line oleh mahasiswa UMRAH, universitas penyelenggara KKNK 2016. I was totally excited to meet them in person, knowing that they would live with me for 30 days! Mereka adalah orang-orang ini: Randa dari Univ. Riau; Saroh dari Univ. Negeri Lampung; Resti dari UIN Suska Riau; Ani dari Univ. Negeri Makassar; Rizky dari Univ. Sriwijaya, Palembang; Bang Tasim dari Univ. Syiah Kuala, Aceh; Ranci, Adel, Silpi dari UMRAH, Tanjung Pinang; Rio dari Univ. Negeri Bengkulu; Dea dari Univ. Negeri Jambi; Pebri dari Univ. Negeri Tanjungpura, Pontianak; dan Bang Ian dari Unhas, Makassar. Setelah lengkap dan saling terhubung dalam grup khusus, kami berbagi tugas dan melengkapi keperluan apa saja yang dibutuhkan selama KKNK.

Rata-rata teman-temanku yang mengikuti KKN reguler akan membawa perlengkapan seperti pindah kos-kosan. Rasanya tak mungkin juga membawa barang-barang sebanyak mereka; apalagi bagasi pesawat juga membatasi kuota barang bawaan. Diputuskanlah para mahasiswa dari UMRAH yang membawa sebagian besar perkakas yang agak berat dan sebagian akan meminjam dari warga. Semua ini karena medan yang akan kami lewati lebih berat dan menuntut kami untuk lebih fleksibel. Karena itu banyak dari kami yang membawa tas carrier daripada koper. 

Di tengah keseruan kelompok menyiapkan barang bawaan dan kenalan, datanglah informasi di mana kami akan ditempatkan. Kami paham bahwa daerah 3T memang agak sulit dijangkau dan membutuhkan waktu tempuh yang lama untuk mencapainya. Akhirnya, setelah kami tahu akan ditempatkan di Desa Lebuh, kami segera mencari tahu via internet tentang lokasi, budaya, masyarakat, hingga laporan berita desa itu. Kami belum pernah ke sana dan kami sendiri baru akan bertemu ketika di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Aku merasa aneh karena baru kali ini melakukan pengabdian tanpa survei terlebih dulu. Kami mengumpulkan segal informasi yang bisa dikumpulkan dan mulai menyiapkan diri, saling mengingatkan, saling menyemangati. 

Hingga tibalah kami di Hotel Sunrise City, Tanjung Pinang. Tak terlalu mewah, tapi cukup bagus meski kami harus tidur bertumpuk, berjajar, bersempit-sempitan mengingat seharusnya kami tidur di barak tentara. Awalnya, kami masih berkumpul dengan teman satu universitas, tapi kemudian para TNI membariskan kami untuk apel dan mengelompokkan kami berdasar peleton sesuai kelompok KKN.

Kami akan ditempa secara fisik dan mental selama 3 hari sebelum pemberangkatan KKN. Dijaga dan diawasi oleh TNI. Pagi hari sebelum materi, kami diharuskan mengikuti apel pagi, senam, dan sarapan. Setelahnya kami harus mengikuti pembekalan mental berupa materi-materi kebangsaan dan materi terkait tema KKN. Selama tiga hari itu pula kami akan mengenal, menyusun proker khusus di luar proker wajib, berinteraksi, dan menyesuaikan diri dengan kelompok KKN. Mereka yang akan menemani selama 30 hari.

Saat itu, peletonku termasuk peleton yang paling lelet karena cowoknya pemalas tapi pesolek. Kami sering kena hukum, hingga puncaknya kami harus push up selama 20 menit saat jam 2 pagi karena satu orang terlambat mengumpulkan tugas. Para cewek tak kurang-kurang cerewetnya mengingatkan dan memarahi para cowok yang nyantai setiap saat. Tapi karena kami tak ingin mengorbankan kekompakan kami, hukuman jam 2 pagi itu menjadi bukti solidaritas sekaligus pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terbukti, kelompok kami mampu mengatasi konflik apapun dengan kepala dingin dan terkondisikan selama di lapangan. Kami saling berbagi sekaligus menjaga rahasia, saling menjaga satu sama lain. Saling mengisi dan saling berkorban. Hingga kami tetap menjadi saudara sepulang KKN.

Meski ada beberapa masalah yang terjadi, and shit always happens, kami tetap optimis bahwa kami mampu melewatinya. Menurutku itu penting mengingat kami hidup bersama dengan 13 kepribadian dan pikiran yang berbeda.

Kepo Soal KKN Kebangsaan #1

Seperti KKN biasanya, tapi yang luar biasa adalah kita akan bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Ini, kesan pertama yang kudapatkan begitu tau bahwa aku akan mengikuti KKN Kebangsaan 2016.

Ah, tapi baiknya aku bercerita dulu, apa itu KKN Kebangsaan. Inisiator program KKNK adalah para dosen dari Universitas Hassanuddin, Makassar; Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; dan Universitas Andalas, Padang; lalu berkoordinasi di bawah naungan Dirjen DIKTI. Dimulai pada tahun 2014, para inisiator ini mengumpulkan mahasiswa dari berbagai pulau dan suku di Indonesia untuk mengabdi di wilayah-wilayah perbatasan negeri. Agar mahasiswa tak angkuh dengan arogansi kedaerahan, agar mahasiswa mengerti bahwa bangsa Indonesia bukan hanya sekelumit orang di daerahnya saja, agar mahasiswa belajar menghadapi kenyataan yang dirasakan di tengah-tengah masyarakatnya. Buat apa jadi mahasiswa kalau cuma berdiam diri di dalam menara gading yang disebut kampus? Kampus itu salah satu tempat belajar, tapi masyarakat adalah tempat mempraktikkan ilmu yang sudah didapatkan.

Sejak 2016, KKNK diputuskan untuk diadakan sekali setahun setiap bulan Juli-Agustus. Wilayah yang dijadikan target KKN adalah wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terisolir), di mana pembangunan masih sangat minim dan seringkali tak terjamah pemerintah pusat. Ada pola unik yang diterapkan panitera inti KKNK, jika tahun ini di wilayah barat Indonesia, tahun berikutnya di wilayah timur; begitu seterusnya. Kapan wilayah tengah (Jawa)? Hm, sepertinya Jawa sudah terlalu mainstream dan sudah terlalu banyak kampus yang memperhatikan daerah lokalnya.

Lalu, bagaimana kampus-kampus menyeleksi mahasiswanya? Ada beberapa yang menerapkan sistem pengumpulan berkas dan wawancara. Untuk Unair, biasanya tergantung fakultasnya; dan tetap saja ada persyaratan yang harus dipenuhi. Yakni, harus memiliki IPK di atas 3 dan pengalaman berorganisasi di internal atau eksternal kampus yang dibuktikan dengan sertifikat atau SK. Sedikit bocoran, setiap bulan Mei-Juni, tanyalah ke pihak dekanat. Adakah lowongan untuk KKN Kebangsaan tahun ini? Siapa tahu kamu yang beruntung untuk mendapatkan satu tempat mewakili Unair di KKNK.

Tentang kuota mahasiswa, biasanya memang disesuaikan dengan kemampuan universitas penyelenggara dan tema yang diusung KKNK tahun tersebut. Tahun 2016, Unair memberangkatkan 14 mahasiswa dari FISIP, FEB, FIB, FKM, FST, dan FH dengan tema Ekowisata Bahari. Tahun 2017, rencana temanya belum dibahas, tapi akan dilaksanakan di Universitas Negeri Gorontalo. Bersiaplah menyambutnya! 

How do We Listen?

Stephen R. Covey, dalam bukunya the 7th Habits of Effective People menyatakan bahwa

“We listen to reply, not to understand”

Kita mendengar untuk membalas, bukan untuk mengerti maksud orang lain.

Akhirnya aku paham dari kasus berikut. Suatu hari, beberapa teman dan juniorku sedang membahas salah satu kegiatan rutinan kampus yang cukup krusial. Aku sudah tak mau diundang karena merasa tak berhubungan dan punya sentimen yang cukup negatif atas acara itu. Aku tak mau menciptakan konflik kedua nanti. Tapi, kedua temanku memohon hingga aku segan menolaknya.

Di waktu yang ditentukan, kami berkumpul. Dari awal, aku berusaha tak terlalu ikut campur karena karakter juniorku, entah, memang sangat berinisiatif dan agak sulit menerima pendapat senior. Pun, begitu dengan kedua temanku. Toh, semester depan kami sudah wisuda, terlalu campur tangan akan dilihat sebagai bentuk meremehkan mereka, bukan? Tibalah membahas sesuatu yang sensitif: pelayanan pada senior saat kegiatan tersebut berlangsung.

Aku menyampaikan beberapa kekurangan juniorku dari kacamata senior angkatanku. Aku mendeskripsikan cara mereka menghubungi senior, melakukan briefing senior, hingga menyambut senior ketika hari H; dan itu banyak menimbulkan salah paham dan kekecewaan pada senior. Aku menjelaskan kenapa itu terjadi menurut sudut pandang senior.

Tapi, kemudian salah seorang juniorku membalas dengan melakukan pembelaan atas dasar efekfivitas tindakan mereka. Berdasarkan masalah yang mereka alami, tekanan yang mereka rasakan, dan sudut pandang mereka. Tak kusangka, aku juga langsung menyahut begitu saja dengan membandingkan apa yang dulu dikerjakan angkatanku dengan apa yang mereka kerjakan. Nada dan volume suaraku naik tanpa kusadari. Aku mulai bersikap emosional dan defensif. Aku mengungkapkan itu supaya para juniorku mendapatkan referensi yang lebih efektif ketimbang apa yang mereka lakukan; tapi alih-alih ditangkap sebagai acuan solusi, perbandingan itu malah memicu debat antara kami. Debat mengalir begitu saja antara aku dan beberapa junior, sementara dua temanku yang lain diam, mungkin mereka sudah paham pola pikir mereka dan sudah terlibat debat sebelumnya.

Hingga akhirnya, junior lain mengatakan ini dengan nada yang masih emosional, “Jangan membandingkan. Pilih saja yang paling efektif.” Aku tiba-tiba sadar bahwa kami tidak satu frekuensi dan kami hanya mendengar untuk membalas berdasarkan sudut pandang kami masing-masing, bukan berusaha mengerti dari sudut pandang orang lain. Jika begini terus, tentu tak akan ketemu solusinya. Begitu sadar, aku segera mengakui kesalahan yang kubuat dan menarik diri dari perdebatan itu. Lalu, moderator mengambil alih situasi dan mulai membahas solusi dengan lebih tenang dan adil.

Rupanya Covey benar, hanya sedikit manusia yang berani mendengar untuk mengerti. Listen to understand is much more difficult because we push our ego to let one’s ego intervene us. But, that’s what the real leaders and effective people do to make a solution.

JJM 6/11

Salah satu kebiasaan unikku saat ini adalah jalan-jalan malam mengitari beberapa ruas jalan utama di Surabaya bersama Mbak Dee. Tentu saja ini bukan jalan-jalan biasa yang hampa; tapi adalah sesi belajarku di luar kelas tentang apapun. Mulai soal dunia pasca kampus, dunia dewasa, dunia percintaan, hingga sedikit ke dunia relijius. Bersama Mbak Dee, aku menemukan sosok yang bisa kuajak berdiskusi dengan sudut pandang yang lebih luas. Dia telah bertemu dengan bermacam wajah orang dari seluruh nusantara dan luar negeri. Bisa dikatakan, Mbak Dee adalah mentorku, selain Pak Riyo, atau Mbak Euis, atau Mbak Dian.

Jalan-jalan malam pun merupakan agenda yang mengasyikkan karena aku bisa bertukar pikiran, meski kaki lumayan capek.

Start dari Rumah Bahasa setelah Maghrib, kami menapaki trotoar sambil mengamati, kadang juga mengambil foto di beberapa sudut Kota Surabaya. Menjadi turis di kota sendiri rupanya lumayan mengasyikkan, mencoba mengeja kehidupan urban yang berlalu terlalu dinamis. Kesamaan kami soal ketertarikan pada media dan segala kompleksitasnya, serta aktivitas pendampingan masyarakat membuat kami betah ngobrol, bertukar pikiran selama perjalanan. Inilah barangkali yang disebut sebagai belajar sambil jalan.

Malam ini temanya adalah cerita soal bangunan tua yang telah beralih fungsi, kerja di media, dan perspektif masing-masing soal demo 4/11. Rutenya adalah dari Jalan Urip Sumoharjo kemudian putar balik ke Jalan Basuki Rahmat, lalu memotong ke arah Coffee Toffee Taman Prestasi. Sudah biasa kulewati memang, tapi tak pernah dalam langkah yang lambat dan penuh perhatian mengenai gedung-gedung di sebelah kanan atau kiri jalan. Cerita tentang gedung-gedung kuno di pusat kota Surabaya memang penuh kisah mistis dan Mbak Dee cukup tau gedung mana saja, as always. Yang kami lakukan hanyalah melewatinya sambil kasak-kusuk soal nasib gedung yang kadang dibiarkan atau malah dibeli investor untuk dirombak menjadi tempat usaha, tak berani mengambil fotonya.

Dari sini, menyambunglah kami dengan cerita soal kehidupan pasca kampus yang terhubung pada topik proyek kerja di media. Mau tak mau, Mbak Dee membeberkan saat dia menjadi wartawan salah satu koran dengan oplah terbesar di negeri ini. Yang, tentu saja, ritme kerjanya sesuai dengan ideologi serta idealisme tempat kerjanya, tapi sayangnya tak selaras dengan idealisme dirinya. Lalu, tak ingin aku tahu secara parsial, Mbak Dee memaparkan cerita soal seniornya yang kerja di salah satu harian yang “lebih serius” dan “lebih akademik”, sebagai alternatif jika aku ingin meneruskan karir di industri media. 

“Masuklah di media yang tepat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang idealis. Karena dengan begitu, kamu akan punya sudut pandang yang lebih luas, daripada sekedar mengamini agenda mediamu,” begitulah kata Mbak Dee. Atau dengan kata lain, jangan ulangi kesalahanku untuk masuk di media yang salah. 

Tetap saja, aku merasa bahwa aku khawatir jika harus bekerja di media yang cukup kritis, karena itu mungkin akan melawan dogma agama yang sudah kupercayai. Tapi kemudian, Mbak Dee menyuruhku untuk membaca ulang Al Quran, hadits, dengan lebih teliti dan berkonsultasi pada para ahli agama (ustadz/ah) yang berpandangan “kontekstual”, Cak Nun atau al-Ghazali misalnya.

Dari situlah, kemudian kami sepakat jika agama Islam menyuruh kami agar lebih kritis dalam memaknai narasi Quran, yakni jalan orang-orang yang telah diberikan nikmat pada mereka. Sepakat bahwa bahasa Quran adalah bahasa “kasih” seperti arti kata Islam sendiri, “selamat”. Ah, ini mengingatkanku akan tujuan para tokoh dalam kisah 99 Cahaya di Langit Eropa; untuk menjadi agen Muslim yang baik.

Termasuk tentang peristiwa 4/11 di Jakarta; Mbak Dee berpendapat bahwa sebenarnya masalah penuntutan itu bisa dimediasi. Karena demo kemarin toh ternyata ditunggangi oleh kepentingan politik. Ya, meskipun banyak Muslim yang memang berniat melakukan aksi damai lillahi ta’ala tetapi mereka tak sadar bahwa mereka juga dimanfaatkan para tokoh yang butuh panggung.

Menurutku, para pendemo memang tak sepenuhnya salah; karena mereka belajar ‘bersuara’ dengan aksi damai untuk membela nilai-nilau Islam. Tapi mungkin, jika mereka sadar bahwa momen seperti itu rawan ditunggangi kepentingan politik dan oknum, mereka akan lebih waspada untuk mengorganisasi aksinya.

Lalu, jalan-jalan malam ini akan bersambung ke agenda berikutnya, pulang ke rumah.

Sebuah Kemewahan

Apakah semua wanita suka belanja? Absolutely yes.

Apakah semua wanita suka belanja make up dan dress cantik? Belum tentu!

Bagiku, sebuah kemewahan adalah ketika aku bisa membeli dan membaca buku-buku yang dibaca para pemimpin dunia. Ketika aku bisa terlarut dalam cerita yang mampu mengubah dan menggerakkan seseorang untuk menjadi lebih baik. Ketika aku bisa mendengarkan pidato inspiratif dari orang yang melakukan sesuatu untuk orang lain.

Bahkan, di suatu masa, aku pernah didistraksi agar lebih “meng-upgrade” penampilan, daripada isi pikiran. Sempat tergoda, tapi rupanya cinta sejatiku yang selalu jatuh pada buku-buku berkelas tak bisa dikhianati begitu saja. Buku-buku itu tetap memanggil dengan sendirinya, dan aku patuh dengan panggilannya.

Well, bukan berarti kemudian aku acuh dengan penampilan. Tapi, setelah penampilan cukup kusesuaikan dengan “standar”, buku-buku itu terus saja menjadi sebuah kemewahan yang terus kukejar. Ya, ilmu di dalamnyalah yang membuatku terkesima.

Karena ini yang kupercaya: wanita yang hanya cantik, tidak akan mampu untuk menciptakan generasi tangguh berikutnya. 

Ke Manakah Perginya?

Dulu sekali, aku pernah bertemu dengan seorang anak perempuan yang cerdas, baik hati, dan shalihah. Hingga orang tua teman-teman lelakinya ingin menjadikannya calon menantu mereka di masa depan. 

Kenapa bisa begitu?

Dia adalah gadis yang manis; jawaban tegas dengan pandangan yang luas membuat banyak orang terkagum. Saat itu, memang belum ada internet, tapi ia adalah seorang kutu buku kelas wahid. Dari biografi Rasulullah, ilmuwan dunia, hingga novel Harry Potter serta DaVinci Code tandas dibacanya. Karena itu, dia menjadi gadis yang tak malu bertanya dan menjawab pertanyaan, atau mengusulkan jawaban yang benar dengan bukti saat ia tahu orang lain melakukan hal yang salah.

Ia suka bernyanyi dan bermain musik. Lagu favoritnya adalah lagu-lagu Siti Nurhaliza dan Rossa. Warna suara mereka mewarnai hari-hari gadis itu. Ternyata, dia dulu pandai menari; dari tari tradisional hingga tari modern. Ia pandai sekali, hingga ia pernah berpikir bahwa kelak, ia akan menjadi penari saja. Tentang menari, suatu saat dia cerita bahwa hanya dialah yang bisa melakukan gerakan kepala sesuai instruksi guru tari di sekolahnya, hingga ia didapuk sebagai asisten tari untuk mengajari teman-temannya. Senyumnya mengembang dan matanya bersinar-sinar saat ia menceritakannya padaku. Ah, ia juga suka mengkombinasikan nada dari tuts-tuts keyboard dengan jemari pendeknya. Jadi, selagi ada kesempatan, dia mengiringiku dengan melodinya saat aku tiba-tiba mendendangkan sebuah lagu. Hebat kan, dia… Bisa membaca nada suaraku. 

Tapi, jangan salah. Meski begitu, gadis ini juga pandai melantunkan shalawat dan ayat suci Al-Quran. Shalatnya selalu tepat waktu, di masjid pula. Ustadz dan ustadzahnya sering terkesima dengan bacaan tajwidnya yang mendekati sempurna. Karena itulah, dia diminta menjadi lead vocal shalawat di TPA nya. Ia selalu di peringkat teratas kelas mendaras Quran, dan duduk paling depan saat kelas Ta’lim. Di sekolah, saat teman-temannya masih belajar Iqro’, dia sudah lancar membaca Quran dengan tilawah dan tajwid.

Ah ya, dia adalah sang ketua kelas yang selalu juara kelas. Dia sering jadi juara olimpiade mata pelajaran matematika, sains, dan bahasa Inggris. Dia agak komplain soal guru-gurunya sering usul kepada orang tuanya untuk mengadakan “selamatan” setiap pasca lomba. “Uang hadiahku kan akan berkurang…”, katanya. Aku tertawa, kubilang “Tidak. Itu namanya sedekah, dan itu akan membuat hartamu semakin berkah”.  Dia juga percaya, bahwa kemampuan berbahasa asing itu akan membawanya pergi ke tempat-tempat di buku yang dibacanya. Suatu hari.

Untuk itu, dia harus mempersiapkan ketrampilan hidup yang diasah lewat Pramuka. Dia adalah ketua regu Anggrek 3. Ia selalu memastikan bahwa setiap anggota bekerja sesuai kemampuannya untuk mencapai tujuan bersama; tak jarang, regunya acapkali unggul dibanding yang lain. Tapi, jika ada seseorang yang kesulitan, ia tak ragu membantunya.

Lalu, karena suatu dan lain hal; aku harus pergi meninggalkannya sendirian. Tapi aku berjanji padanya untuk kembali dan mendengar kisah lengkapnya. Dia pun berkata, “Kalau kau kembali, aku ingin kau mendengar kisah cintaku.” Ya, gadis seusianya sudah bisa merasakan perasaan itu. Baiklah. Aku pun mengucapkan salam perpisahan padanya. Dia melambaikan tangan padaku.

Sekarang, waktuku sudah agak longgar, dan aku rindu sekali padanya. Aku ingin mendengar ceritanya lagi. Kuhampiri ia. Tapi, ke mana perginya? Mungkinkah dia sembunyi?

Sungguh, aku ingin bertemu dengannya.

Penyakit Mahasiswa (yang sudah lama di) Jawa: Katak dalam Tempurung

Hari ini aku cukup lama berbincang dengan salah satu temanku, Icha, setelah dia pulang dari kegiatan PPAN di China. Icha, anak kuliahan asal Gresik yang selalu bersemangat dan berambisi tapi realistis ini sedang aktif-aktifnya membina kelompok masyarakat di bantaran kali Jagir, di bawah payung organisasi Urban Care Community.

Obrolan kami berdua awalnya karena aku ingin mencoba “melakukan pengabdian yang benar-benar memanfaatkan ilmuku” di bidang media dan studi budaya bekerja sama dengan komunitasnya; tapi ternyata hal ini melebar hingga kami membahas soal pengalamannya di China dan ceritaku soal KKN Kebangsaan. 

Satu kesamaan kami terhadap dua program yang menyatukan para mahasiswa Indonesia itu adalah, “Ternyata Indonesia tak hanya berisi orang Jawa dan Bali.”

Wajar saja, ketika program itu berlangsung, kami ‘dikumpulkan’ dalam satu wadah dan diberi suatu proyek untuk dikerjakan bersama. Kami ini; sudah orang Jawa tulen, sekolah tak pernah pindah dari Pulau Jawa, tiap hari berbahasa Jawa, menikmati hiburan-hiburan urban di Jawa, dan terkena efek dari pemerintahan zaman Soeharto yang Jawa banget dari orang tua-orang tua kami; hanya bisa meratapi rasa malu dan cupet karena belum pernah merasakan asyik serta serunya berkumpul dengan saudara-saudara dari Sabang sampai Merauke. 

Sebenarnya, sudah sejak pulang KKN Kebangsaan aku memendam topik ini untuk ditulis, tapi sekarang baru menemukan waktu yang tepat untuk menuliskannya (di antara deadline paper dan ppt diskusi besok). 

Oke, balik lagi. Icha bercerita dengan sangat antusias bahwa dia tak pernah bosan menyanyikan dan mendengarkan lagu daerah dari seluruh Nusantara, plus menari kalau bisa. “Musik mereka itu juga seru lho, Mik…“. Dan bahkan dia bilang tak ada lagi lagu bernuansa barat selama ia berada di bus yang membelah daratan China. 

“Aku sampai merinding waktu kita nyanyi lagu Gemufamire dan Indonesia Tanah Air Beta di depan Pemerintah China,” lanjutnya.

Percayalah, aku pun merasakannya dari caranya bercerita. Dia sampai menggoyang-goyangkan badannya demi mengingat ritme lagu yang dimainkannya. 

Begitupun denganku. Selama ini, aku hanya menyaksikan orang suku Melayu, Batak, Dayak, Bugis, NTT, atau Papua hanya melalui buku dan internet. Tak pernah bergaul dan berinteraksi secara langsung dengan mereka. Kalaupun ada, paling keluarga dari Bude yang asli Bugis, dan itupun hanya kulakukan 4 tahun sekali ketika aku berkunjung ke Kalimantan atau Bude yang ke Surabaya. Di luar itu, hidupku penuh drama produksi Barat, Korea, dan kadang film apik Indonesia (re: Jawa Urban).

Lalu, tiba-tiba saja pengumuman KKN Kebangsaan datang dan memanggilku untuk mengabdi ke pelosok negeri di ujung barat laut Indonesia, dekat dengan Malaysia dan Singapura. Di sinilah aku bertemu dengan para mahasiswa hebat dari daerah yang tak kenal lelah berjuang demi kesetaraan sosial di banyak bidang. Tidak meratanya pembangunan infrastruktur dan suprastruktur di daerah mereka justru menjadikan mereka pejuang tangguh, yang kerap menyuarakan tuntutan dan teguran keras kepada pemerintah Indonesia di pusat (Jawa), tapi beritanya seringkali dibungkam dan (mayoritas) mahasiswa di Jawa acuh terhadap mereka ini. 

Mungkin memang karena para mahasiswa di Jawa sudah sangat nyaman dengan zonanya, dengan gadget, internet, dan segala kemewahan hidup yang ditawarkan di sini; mereka kadang lupa soal perjuangan saudara-saudara mereka di luar Jawa. Dan seperti kata Ben Anderson, menjadi katak dalam tempurung yang sengaja memenjarakan pikiran-pikirannya, dan berhenti peduli pada sesama.

Duh, separah itukah para mahasiswa di Jawa? Duh! Kelak, setelah ini, aku paham bahwa untuk mengisi kemerdekaan, tak cukup kita melihat Indonesia dari kacamata sempit dari Pulau Jawa saja. Karena sudah seharusnya kita melihat dari sudut pandang saudara kita yang lain; kan katanya Bhinneka Tunggal Ika. Kok masih ogah mengenal negaranya sendiri?

AriReda: Suara Hati

Seorang filsuf estetika, Walter Benjamin, pernah berkata, “Ketika manusia sudah mulai mengkonsumsi karya seni (cetakan industri budaya) populer, mereka akan kehilangan kenikmatan menyaksikan karya berkualitas yang masih penuh dengan aura di dalamnya.”

Malam itu, aku dikompori seorang senior progresif untuk menemaninya datang menemui Mbak Reda. Sejak pertama kali memberikan poster acara via Whatsapp, dia gembira bukan main karena akhirnya bisa reunian dengan Mbak Reda setelah sekian lama. Tapi tetap saja, aku masih clueless, who is this woman.

“Itu lho, AriReda. Yang bikin musikalisasi puisinya Sapardi.” 

Merekognisi kata Sapardi Djoko Damono sebagai salah satu sastrawan terbesar di Indonesia, naluri ketertarikanku sebagai anak sastra langsung bangkit. Ah, it must be something related with literature and classy stuff.

“Wah, pasti keren, Mbak!” 

Tak butuh waktu lama untukku mengetik nama AriReda di Youtube dan Instagram. Aku mendapatkan video AriReda sedang membawakan puisi Sapardi yang terkenal se-jagad Indonesia, Hujan Bulan Juni dengan alunan musik akustik yang lembut, tapi menggugah. Pun di Instagram, alih-alih mendapatkan akun Mbak Reda, aku tertumbuk pada akun IG Nadine Chandrawinata yang menceritakan pertemuannya dengan Mas Ari dan Mbak Reda di suatu acara. Artis yang akhir-akhir ini sibuk menjadi petualang tersebut tak henti-hentinya memuji karya mereka berdua dengan kata-kata “suara teduh, alunan indah” dan semacamnya. 

Selama ini, aku adalah penikmat musik-musik mainstream yang populer pada jamannya, tapi aku juga tak seberapa suka lagu-lagu sekarang yang liriknya (kebanyakan) tak berbobot dan terlalu vulgar. Aku juga tak belajar begitu dalam soal musik, meskipun itu adalah salah satu bentuk seni; setidaknya aku sedikit tahu soal mana musik yang bagus untuk dinikmati. Nah, mendengarkan musikalisasi puisi ala AriReda adalah sesuatu yang baru buatku, dan aku punya feeling, konser malam itu akan menakjubkan!

Dulu aku juga pernah melakukan musikalisasi puisi di kelas 9 & 10. Meskipun aku melakukannya karena guruku memberi tugas, entah kenapa aku jadi suka perpaduan antara musik dan puisi. Keduanya menyatukan tiga elemen yang berbeda; kata, suara, dan rasa. Puisinya jadi lebih cepat meresap dan mudah dimengerti, sementara musiknya punya lirik yang bermakna, tak sekedar nyanyian biasa. Tapi ya namanya tugas anak sekolah, musikalisasi pun dilakukan ala kadarnya, dan guruku oke-oke saja dengan variasi puisi ala kelompokku. Di sinilah kesan pertamaku terhadap musikalisasi puisi, hingga aku mendengar suara berbeda dari musik yang dibawakan AriReda, dengan rasa yang semakin kaya!

Kembali ke masa kini. Jadi, kami berdua telah datang bahkan sejak sebelum acara dimulai. Seniorku itu berharap supaya bisa menemui Mbak Reda in person dan ngobrol banyak dengannya. Aku sih, manut saja. Tapi ternyata, AriReda memang baru hadir di depan kami 10 menit menjelang waktu tampil mereka. Begitu ada Mbak Reda, seniorku itu langsung menghampiri, memeluk, sekaligus mencak-mencak kegirangan. Dan, hal yang kurang lebih sama dilakukan Mbak Reda. Mereka pun ngobrol tanpa henti, sampai akhirnya diminta salah satu kru untuk bersiap manggung. Kesan pertamaku, Mbak Reda orangnya jauh dari ngartis dan pasti termasuk orang-orang dinamis yang manis. Aku dibuat penasaran dengan latar belakang mereka di luar identitas mereka sebagai seniman.

Tak lama, Mas Ari dan Mbak Reda naik ke panggung. Mas Ari sudah siap dengan gitar akustiknya, Mbak Reda dengan buku teks puisinya. Tampilan mereka sederhana saja; nuansa hitam elegan, tapi tetap chic dikenakan. Rupanya, Mbak Reda tak suka jauh dengan audiensnya. Diajaknya kami semua maju satu cm sampai ke depan panggung, hal yang tak dilakukan band-band lain pengisi acara malam itu. Tentu saja, dengan senang hati kami melakukannya. 

Seperti biasa, mereka memperkenalkan diri, mencoba menjawab penasaran anak-anak muda di depan mereka. Ternyata, Mbak Reda adalah salah satu mahasiswi Sastra Perancis UI di tahun 1980-an, yang juga menjadi mahasiswi Pak Sapardi. Sementara Mas Ari adalah penikmat sastra yang dengan senang hati mewujudkan mimpi Pak Sapardi untuk memperkenalkan puisi kepada masyarakat dalam proyek musikalisasi puisi di zaman itu. 

Jadi, bisa dibayangkan lah, berapa usia para sesepuh ini sekarang. Aku salut dengan semangat mereka yang tak berhenti berkarya di usia yang seharusnya menikmati kemapanan seperti beliau. 

Tanpa banyak basa-basi lagi, Mbak Reda mulai memberikan pernyataan di awal lagu tentang puisi yang akan dinyanyikannya. Aku berharap lagu pertama adalah Hujan Bulan Juni, tapi ternyata yang terpilih adalah puisi berjudul Gadis Peminta-minta; aku pernah membacanya ketika sedang mengerjakan UN SMA. Mendengarkan suara teduh (aku setuju dengan istilah Nadine) Mbak Reda serasa melihat langsung kehidupan gadis kecil yang diceritakannya dalam puisi. Nyata. Ada. Tau kan, rasanya ingin menangis di depan anak kecil tapi di sisi lain, ada rasa untuk membuatnya tetap tegar? Begitulah. 

Apakah ngantuk mendengarkan musik ini? Sama sekali nggak ada ngantuk. Sama ketika aku mendengarkan River Flows in You atau Kiss The Rain nya Yiruma; bukan ngantuk yang kudapat. Baper iya…. 

Cuma ada yang aneh dengan reaksi orang-orang sekitar. Dari awal band pembuka, banyak yang matanya tak fokus dengan penampil di depan. Bahkan, tepuk tangan terasa canggung. Segala bentuk gadget (Smartphone, kamera digital, go pro, DSLR, tele) berseliweran untuk mengambil momen-momen langka yang kerap terjadi saat waktunya tak terduga. Bukan malah menikmati konser dan musiknya… 

Hal yang berbeda terjadi sejak Mbak Reda meminta penonton maju agar lebih dekat dan hampir tak berjarak. Semuanya terbius dengan dentingan gitar akustik Mas Ari, suara bening Mbak Reda, dan lirik-lirik indah para sastrawan dalam puisi. Meskipun banyak di antara wajah-wajah ini yang tak mengerti (mungkin mereka juga sudah biasa dan suka  aliran mainstream) dengan maknanya, tapi setidaknya kami mencoba mengapresiasi musik sejujur-jujurnya dengan cara sepenuhnya fokus pada sang penampil. AriReda telah berhasil mengajak kami untuk “merasakan lebih dalam” dan “lebih peka” dengan “yang terlihat biasa”.

Di sini aku baru paham, apa makna perkataan Walter Benjamin di atas. Bahwa “aura” suatu karya seni, akan terlihat dan terasa dalam bentuk aslinya. Tentu saja berbeda dengan jika kita menikmati musik atau karya seni laiannya via media apapun. Menikmati secara langsung dan di tempat yang tepat memang memberikan sensasi tersendiri, dengan keberadaan ruang dan waktu yang khusus. Ia menciptakan pengalaman yang nantinya menjadi memori-memori kita. Mungkin bisa diceritakan, untuk memberi pelajaran di masa depan yang mungkin akan semakin cepat dan dinamis. 

Mungkin, generasi depan sudah tak tau lagi, betapa asyiknya menikmati karya klasik secara live, atau bagaimana serunya bertemu para seniman secara langsung dan bertukr pikiran dengan mereka; seiring dengan semakin berkembangnya teknologi media dan mudahnya industrialisasi budaya. (Maaf topiknua tetiba berat). 

Semoga kelak mereka masih diberikan kesempatan untuk mendengarkan dan menikmati seni yang berkualitas yang tak cuma mementingkan kuantitas atau penggemar. Tapi seni yang benar-benar dilahirkan dari kegelisahan hati para penciptanya, yang biasanya menjadi jawaban pemenuhan jiwa.

Up ↑